POLA PENGEMBANGAN SEKTOR INDUSTRI (MAKALAH EKONOMI PEMBANGUNAN)

Posted: 20 May 2013 in Ekonomi Pembangunan

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    LATAR BELAKANG

Tidak hanya logaritma ataupun bilangan fibonaci saja yang mempunyai suatu pola, hidup inipun senantiasa mengikuti suatu pola yang teratur, begitu juga dengan perekonomian, berbicara perekonomian sudah barang tentu membicarakan masalah industri. Antara Negara maju dengan Negara yang sedang berkembang atau antara Negara yang kaya sumber daya alam dengan yang tidak atau sedikit mempunyai sumber daya alam pastilah mempunyai pola yang berbeda dalam pengembangan industri.

Bagi Negara-nagara yang kaya akan sumbar daya alam seperti Amerika Serikat dan Jerman Barat lebih banyak menggunakan pola pengembangan pasar dalam negeri (inward looking strategy), sedangkan Negara-negara miskin sumber daya alam seperti Jerman, Singapore, Hongkong, Taiwan dan Korea Selatan menganut pola pengembangan pasar luar negeri (outword looking strategy).

Dari beberapa pola tersebut semuanya menyangkut masalah perdagangan, baik luar negeri maupun dalam negeri, maka dari itu timbulah suatu pertanyaan bagaimana suatu perdagangan itu bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bagaimana pengaruh perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi, begitu juga tentang pola perdagangan itu sendiri. Maka dari itu perlu adanya pemahaman tentang perdagangan.

 B.     TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan kami menulis makalah dan mengangkat Tema mengenai “POLA PENGEMBANGAN SEKTOR INDUSTRI” ini adalah guna memenuhi  tugas mata kuliah Ekonomi Pembangunan.

Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk memperluas wawasan kami dan pembaca tentang bagaimana pola pengembangan sektor industri yang dilakukan Negara maju dengan Negara sedang berkembang.

 C.    RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam penyusunan  makalah ini antara lain:

  1. Bagaimana pola pengembangan sektor industri anatara Negara maju dengan Negara sedang berkembang?
  2. Mengapa perdagangan bisa sebagai mesin pertumbuhan ekonomi?
  3. Bagaimana pola ekspor bisa terjadi?
  4. Fase-fase ekspor uti apa saja?
  5. Bagaimana strategi pasar dalam negeri?

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

POLA PENGEMBANGAN SEKTOR INDUSTRI

A.    PERDAGANGAN SEBAGAI MESIN PERTUMBUHAN EKONOMI

Perdagangan bertujuan untuk meningkatkan manfaat diantara pihak-pihak yang berdagang. Selain antar pihak yang berdagang sebenarnya perdaganagn itu juga bermanfaat untuk skala ekonomi yang paling efisien dan optimum, karena dengan adanya perdagangan tersebut dapat terjadi perluasan pasar. Selain itu juga dapat memungkinkan berkembangnya inovasi-inovasi tekhnologi baru.

Pengembangan sector industri sekarang ini dianggap sebagai salah satu pemecahan masalah keterbelakanagn suatu Negara, karena dengan perkembangan sector industri ini dapat diperoleh manfaat perdagangan yang trtinggi. Bagi negar yang sedang membangun seprti Indonesia ini pengembang sector industri ditunjukan untuk mengurangi impor atau sering disebut kebijsksn subtitusi impor. Dorongan penggunaan kebijakan tersebut adalah untuk memperoleh surplus neraca pembayaran yang sebesar-besarnya , sehingga dapt digunakaan untuk akumulasi capital bagi pertumbuhan ekonomi selanjutnya. Industri yang efisien adalah industri yang berskala besar dan dapt dilakukan hanya ada jaminan pasar yang luas.

Kunci pembangunan adalah investasi capital yang dapat diciptaakn dengan surplus yang cukup besar. Dan surplus ini diperoleh bila memiliki keuntunagn yang besar dari perdagangan. Pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sector industri suatu Negara hanya telaksana dengan baik apabila da pengaturan tentang perdagangan yang mendukung.

B.     POLA EKSPOR

Pola pengembangan sektor industri

Adanya pola pengembangan sektor industri yang layak berkembang di dunia sekarang, di mana Negara-nagara yang kaya sumbardaya alam seperti Amerika Serikat dan Jerman Barat lebih banyak menggunakan pola pengembangan pasar dalam negeri (inward looking strategy), sedangkan Negara-negara miskin sumberdaya alam seperti Jerman, Singapore, Hongkong, Taiwan dan Korea Selatan menganut pola pengembangan pasar luar negeri (outword looking strategy).           Kedua pola ini (inward loolking strategy dan outward looking strategy ) bila sama-sama berhasil akan mampu menopang perkembnagan produksi didalan negeri yang selanjutnya akan banyak menyerak banyak tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan nasional.

Walaupun di Negara-negara yang miskin sumber daya alam namun, Negara-negara tersebut terbukti berhasil mengembangkan perekonomianya dengan menggunakan pola pengembangan outward looking strategy tersebut. Pada umumnya Negara yang menggunakan pola pengembangan ini akan mengundang perusahaan multinasional untuk mengembangkan suatu jenis industri dinegaranya. Karena secara internasional perusahaan multinasional tersebut telah terkenal, sehingga hasil produksi perusahaan multinasional ini meskipun masih merupakan produk baru, tetapi tidak akan mengalami kesulitan dalam hal pemasaran barang produksi yang dihasilkanya. Sehingga pasar internasional menjadi terbuka dan orang dalam negeri mulai turut menghargai mutu produksi barng tersebut. Sehingga berkembanglah pasar didalam negeri dan mendorong perekonomian dalam negeri untuk dapat berkembang lebih lanjut.

Fase-fase export led strategy adalah sebagai berikut:

1. Fase menerima pesanan.

Pada fase ini, barang industri diproduksi berdasarkan atas pesanan. Inisiatif produksi yang berupa macam dan spesifikasi produk yang dihasilkan bulan dating dari produsen tetapi dating dari konsumen dan distributor.

Contohnya adalah industri perkulitan sampai sekarang ini dalam memeproduksi hasil produksinya didasarkan pada tingkat pesananpara konsumen. Misalnya sepatu kulit dan ikat pinggang untuk ABRI.

Jadi dalam fase menerima pesanan ini, kreatifitas produsen masih terbatas karena dibatasi oleh tingkat keahlian dan dana modal. Sehingga para produsen ini masih pasif peranannya dan lebih banyak menjual kemampuan berproduksi, sedangkan jumlah produksi, desain, serta spesifikasi produk masih ditentukan oleh pemesan.

2. Fase permulaan mendorong kegiatan ekspor.

Dalam fase inipabrikan sudah tidak lagi paif menunggu pesanan, tetapi sudah aktif mengadakan riset dan pengemabngan untuk menemukan motif-motif yang cocok untuk pasaran.

Contohnya adalah perusahaan TV di jawa tengah. Meskipun sebagian komponen produknya yang diimpor dari luar negeri, penelitian dan pengembangan terus diusahakan guna menciptakan produk dengan desain baru.

Dalam fase ini pabrikan tidak lagi mendasarkan produksinya pada pemesanan tetapi aktif mencari pasar. Sehingga hal ini akan memaksa mereka untuk berusa efisien sehingga dapat menjual dengan harga yang lebih murah.

Pada kasus perubahan TV yang tidak memiliki induk semang dirasakan adanya persaingan yang berat dari perusahaan-perusahaan yang sejenis yang memeliki imduk semang diluar negeri. Cara kerjanya industri TV dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:

a. Industri TV yang memiliki induk semang diluar negeri sehingga produksi di dalam negeri hanya merupakan assembling 100%.

b. Industri TV yang tidak menjalankan “raionalisme”, dalam arti berusaha terlepas dari pengaruh perusahaan multi nasional di luar negeri dan berusaha mengembangkan desain sesuai dengan kebutuhan pasar dalam negeri.

Sebagian besar perusahaan TV di Indonesia memilih untuk memiliki induk semang perusahaan multinasional di luar negeri. Sehingga produksi TV ini mengandung padat teknologi sehingga banyak tenaga ahli yang digunakan.Sehingga biaya “research and development” tinggi.Tetapi, bagi perusahaan yang merupakan perusahaan assembling saja, biaya R&D tidak perlu ada,karena R&D akan dilakukan peruasahaan induknya diliar negeri. Dengan demikian , terlihat jelas bahwa dari segi efisien , perusahaan aembling akan lebih unggul dibanding perusahaan dalam negeri yang melakukan rasionalisasi. Kesulitan lain dari perusahaan dalam negeri yang melakukan rasionalisasi adalah masalah factor produksi yaitu perusahaan dalam negeri harus memiliki “multisources” dalam hal pembelian factor produksi yang bertujuan untuk mengurangi resiko ketergantungan pada satu perusahaan supplier.

Dari segi desain, perusahaan yang melakukan “rasionalisasi” akan lebih berkemampuan untuk menyesuaikan kebutuhan dalam negeri dibandinng perusahaan assembling, selama dana R&D tersedia. Tetapi, kerugian yang dihadapi perusahaan ini adalah mengenai ongkos pembuatan “mould” untuk pembuatan suatu desain baru hasil “inovasi”.

Dengan demikian nampak bahwa masih banyak peraturan yang dapat menguntungkan perusahaan melakukan rasionalisasi, dibandingkan perusahaan sembling. Sehingga ada tedensi perusahaan perusahaan yang malakukan “rasionalisasi” terancam kebangkrutan, karena mampu bersaing dengan perusahaan assembling dipasar dalam negeri.

3. Fase penciptaan kapabilitas sendiri.

Pada fase ini, perusahaan telah mengenal cara pembuatan yang baik sampai dengan pengepakan, pembuatan label dan hal-hal yang diperlukan untuk menjamin mutu hasil produksi.  Sehingga perusahaan ini membutuhkan keahlian tidak hanya, dalam hal desain tetapi, juga dalam hal pengawasan terhadap rangkaian produk.

Pada fase ini, merupakan fase perubahan fokus dari penjualan menurut kapasitas produksi menjadi penciptaan produksi menjadi penciptaan produk yang secara aktif harus dipasarkan kepasar dalam negeri maupun luar negeri.Ia akan mampu bersaing dengan cara menciptakan produck-produck berkualitas tinggi dan dengan desain yang disenangi konsumen.

4. Fase pemasaran kapasitas.

Pada fase ini, para pabrikan akan berusaha menghasilkan produk atau rangkaian produk sendiri, dan kemudian mendasarkan hasil-hasil atau rangkaian hasil tersebut. Para pabrikan tidak lagi memproduksi barang untuk memenuhi pesanan, tetapi memproduksi untuk persediaan sendiri dan menjual atas dasar persediaan. 

5. Fase pembentukan fasilitas produksi di negara lain.

Dalam fase ini, pabrikan telah membuka cabang-cabangnya didaerah lain. Perusahaan atau pabrikan ini sudah lansung memperkenlkan produknya kepada konsumen.

Profesor Panglaykim berpendapat bahwa sampai dengan akhir pelita III pabrikan di Indonesia masih berada pada fase I dan II yaitu banyak pabrikan yang mempunyai kapasitas berproduksi. Untuk mencapai fase yang lebih tinggi disarankan adanya penggabungan atau pengelompokan dalam hal desain, atau dalam hal pencarian pasar, keuangan, atau dalam bentuk barang dan jasa yang diinginkan.

C.    STRATEGI PASAR DALAM NEGERI

Pada umumnya negara- negara kaya sumberdaya alam menempuh strategi pengembangan pasaran dalam negri sebagai alat untuk mengembangkan ekonomi nasional mereka. Pengembangan pasar dalam negri ini tidak mengalami kesulitan, karena negara bersangkutan kaya akan bahan mentah, sehingga hasil produksi akan relatif murah harganya.  Dengan demikian baik pasar dalam negri maupun pasar luar negri akan menopang pertumbuhan dan perkembangan industry olahan di dalam negri.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana memulai atau mendorong penduduk agar sudi menggunakan barang – barang produksi dalam negri. Yang menjadi masalah adalah bagaimana atau mendorong penduduk agar sudi mengunakan barang – barang produksi dalam negri.  Mutu maupun harga dapat dipengaruhi oleh system tataniaga. Agar barang-barang produksi dalam negri itu dapat bersaing terhadap barang-barang impor, maka diperlukan adanya perlindungan tata niaga oleh pemerintah. Khusus untuk barang-barang subtitusi impor, perlindungan yang diberikan dapat berupa bea masuk (tarif) yang tinggi, kuota maupun larangan impor serta jaminan pasar dengan harga yang ditentukan oleh pemerintah.

Harga yang mahal sebagai akibat biaya produksi yang tinggi dapat diakibatkan oleh:

  1. Kelemahan dalam mengelola perusahaan sehingga tingkat efisiensi yang obtimal tidak tercapai.
  2. Birokrasi yang berlebihan.
  3. Perlindungan yang berlebihan dan terus-menerus.

Usaha telah ditempuh oleh pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut dengan melalui bimbingan dan latihan untuk meningkatkan efesiensi.   Pemerintah juga telah menurunkan tariff listrik dan harga beberapa jenis BBM. Mengenai perlindungan terhadap industry dalam negri perlu diamati secara lebih kusus, karena persoalannya sangat mendasar dan mempunyai dampak yang lebih luas bagi berhasilnya pembangunan kita saat ini maupun saat mendatang.  Kita mengenal dengan sebutan (infant industry argument) dimana industry yang masih muda harus dilindungi agar mampu bersaing dengan barang-barang Impor dari luar negri. Perlidungan yang diberikan dapat dipertanggung jawabkan asalkan:

  1. Dalam jangka waktu tertentu industry yang diberi perlindungan akan dapat berdiri sendiri dan bersaing dengan barang-barang impor.
  2. Perlindungan yang diberikan jangan terlalu besar, sehingga tidak menimbulkan inefiensi dan rasa manja.

Sebab-sebab dari tingginya harga dari hasil produksi industry subtitusi impor:

  1. Skala produksinya kecil di banding produksi di negara industry.
  2. Investasi terlalu mahal karena harus membangun tidak hanya pabrik dan perlengkapannya, tetapi juga pasaran seperti listrik, air dll.
  3. Biaya teknologi tinggi.
  4. Biaya diluar perusahaan seperti birokasi, BBM, LISTRIK, juga tinggi.

BAB III

PENUTUPAN

A. KESIMPULAN

1. Fase pengembangan ekspor dapat berupa seperti bagan dibawah ini:

Negara kaya SDA -> Pasar luar negeri (campur tangan pemerintah) dan atau Pasar dalam negeri (pasar berbasis) -> produksi dalam negeri -> income and imployment

2.  Fase export led stratrgy terdiri dari lima fase yaitu :

Fase menerima pesanan -> Fase permulaan mendorong kegiatan ekspor -> Fase penciptaan kapabilitas sendiri -> Fase pemasaran produk -> Fase pembentukan fasilitas produksi di negara lain

B.    SARAN

  1. Hendaknya Negara yang mempunyai banyak sumber daya alam termasuk Indonesia lebih bisa memanfaatkannya sebaik mungkin guna meningkat-kan perekonomian Negara.
  2. Hendaknya Negara-negara kaya sumber daya alam mampu mengembang-kan pasar dalam guna mengembangkan ekonomi nasional, khususnya Indonesia.
  3. Dalam pengembangan industri hendaknya memperhatikan pola maupun fase ekspor, karena ekspor juga bisa meningkatkan perekonomian suatu Negara.
  4. Dalam menghadapi suatu perdagangan alangkah baiknya pemerintah merencanakan strategi yang tepat sehingga dapat meminimalisir kesalahan dan meningkatkan efisiensi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s