INDUSTRI SUBSITUSI IMPOR (MAKALAH EKONOMI PEMBANGUNAN)

Posted: 20 May 2013 in Ekonomi Pembangunan

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    LATAR BELAKANG

Dalam pembangunan ekonomi industri subsitusi impor sangat penting. Khususnya di Negara-negara berkembang, industri subsitusi impor ini mempunyai tujuan supaya banyak barang-barang baru yang di hasilkan didalam negeri yang semula di impor.Sehingga dengan adanya industri subsitusi impor ini, maka dapat meningkatkan taraf hidup rakyatnya di Negara-negara tersebut.

Industri subsitusi impor itu akan berkembang lebih cepat apabila di bantu dengan proteksi, karena industrilisasi ini pada mulanya didasarkan pada pasar dalam negeri dalam bentuk barang-barang subsitusi impor. Sehingga perkembangan industri subsitusi impor akan menghemat penggunaan devisa. Devisa yang hemat dapat di gunakan untuk mengimpor barang capital dan barang lain yang berguna yang belum dapat segera dihasilkan sendiri. Selanjutnya apabila industri subsitusi sudah berkembang dengan baik dan pasar dalam negeri sudah tidak lagi menampung hasi produksinya, maka kelebihan hasil produksi dapat diekspor guna memperoleh tambahan devisa.

Untuk itu, karena begitu pentingnya peranan industri subsitusi impor dalam pembangunan ekonomi dalam suatu Negara maka, sebagai warga negara yang baik hendaklah kita mendukung supaya terjadi kelancaran dalam industri subsitusi impor dalam pembangunan ekonomi.

B.     TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan kami menulis makalah dan mengangkat Tema mengenai “INDUSTRI SUBSITUSI IMPOR” ini adalah guna memenuhi  tugas mata kuliah Ekonomi Pembangunan.

Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk memperluas wawasan kami dan pembaca tentang bagaimana pembahasan timbunya pengertian subsitusi impor, motif-motif subsitusi impor, subsitusi impor dan pinjaman luar negeri, segi positif dan negatif dari pinjaman luar negeri , kapasitas suatu negara dalam membiayai pinjaman luar negeri, subsitusi impor dalam inflasi, subsitusi impor di berbagai sektor.

C.    RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam penyusunan makalah ini antara lain:

  1. Bagaimana timbulnya pengertian subsitusi impor?
  2. Motif-motif apa saja dalam subsitusi impor?
  3. Bagaimnakah subsitusi impor dan pinjaman dari luar negeri?
  4. Apakah segi positif dan negatif dari pinjaman luar negeri?
  5. Bagaimanakah kapasitas suatu Negara dalam membiayai pinjaman laur negeri?
  6. Bagaimanakah terjaadinya subsitusi imopor dan inflasi?
  7. Bagaimanakah asubsitusi impor di berbagai sector?

BAB II

PEMBAHASAN

INDUSTRI SUBSITUSI IMPOR

 A.    TIMBULNYA PENGERTIAN SUBSITUSI IMPOR

Pemerintah di Negara berkembang telah bertekad untuk mendorong dan memajukan industrilisasi di negaranya, karena Negara berkembang ini yakin bahwa dengan industrilisasi ini, dapat menaikkan taraf hidup rakyatnya. Sehingga pembangunan ekonomi di Negara berkembang dengan industrilisasi ini, sudah merupakan strategi dalam pembangunan ekonominya.

Industrilisasi tersebut meliputi berbagai cara diantaranya yakni:

  1. Subsitusi impor yang dimasudkan supaya banyak barang-barang baru yang di hasilkan didalam negeri yang semula di impor.
  2. Diversifikasi ekspor yang dimaksudkan akan memperbanyak macam barang yang diekspor.

Negara-negara berkembang dalam menyelenggarakan pembangunan ekonomi terutama industrilisasi  ini, Negara berkembang membutuhkan valuta asing atau devisa yang banyak untuk mengimpor barng-barang capital dari ngara yang telah maju industrinya. Sumber-sumber devisa antara lain:

  1. Sektor ekspor.
  2. Pinjaman dari luar negeri.
  3. Bantuan luar negeri.

Perekonomian Negara berkembang di dasarkan pada produksi primer yang di ekspor ke negara –negara maju. Sehingga devisa hasil ekspor ini, kemudian di gunakan untuk mengimpor barang-barang capital guna menyelenggarakan industrialisasi  atau pembangunan di negaranya.

Dengan memusatkan perhatian pada produksi primer untuk ekspor, Negara berkembang selalu menghadapi masalah yang sulit dalam pembangunan ekonomi, karena ketidak setabilan pendapatan dari sector ekspor tersebut.

Sebab-sebab ketidak stabilan pendapatan dari sektor ekspor antara lain:

  1. Kenaikan volume ekspor selalu menghadapi berbagai macam kekuatan persaingan yang  makin besar baik yang datang dari Negara eksportir maupun importir yang telah mampu menciptkan barang sintesis.
  2. Nilai tukar (Term of trade) barang ekspor Negara sedang berkembang yang umumnya berwujud barang produksi primer, selalu mengalami penurunan dalam menghadapi barang-barang produksi yang terutama dihasilkan oleh Negara maju.
  3. Seringnya terjadi fluktuasi harga produksi primer dipasar dunia baik yang di sebabkan oleh naik atau turunya permintaan maupun penawaran produksi primer.

Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dibidang pendapatan devisa dan penggunaanya, dapat menggunakan subsitusi impor dan diversifikasi ekspor. Untuk dapat mengimpor beberapa macam barang harus tersedia jumlah devisa yang cukup, dan sumber devisa terbesar adalah berasal dari ekspor .

Dengan diversifikasi ekspor suatu Negara tidak hanya tergantung pada beberapa macam barng ekpor saja, sehingga apabila terjadi kerugian pada salah satu macam barang dapat diimbangi oleh keuntungan dari barang lain.

Sebab-sebab rendahnya elastisitas pendapatan terhadap impor produksi inpor dinegara maju antara lain:

  1. Adanya kenaikkan barang produksi barang-barang primer di Negara maju.
  2. Ada perubahan pola konsumsi yang membuat hasrat berkonsumsi terhadap produksi primer tersrbut rendah.
  3. Adanya kenajuan teknoligi mengurangi bahan dasar dalam berbagai macam industri.
  4. Adanya perkembangan barang sintesis.
  5. Ada berbagai macam peraturan yang membatasi impor terhadap beberapa produksi primer.

Sebab-sebab tingginya elastisitas pendapatan terhadap impor barang industri di negra berkembang antara lain:

  1. Semakin besarnya jumlah penduduk dan dan berlakunya efek pamer di Negara-negara tersebut.
  2. Kebutuhan akan barang industri untuk pelaksanaan pembangunan ekonomi seamakin besar jumlahnya.
  3. Usaha dalam meningkatkan hasil produksi primer itu sendiri guna meningkatkan pendapatan devisa, maka Negara tersebut juga memerlukan barang-barang industri yang lebih banyak.
  4. Adanya dorongan untuk mendirikan industri subsitusi impor dan ekspor justru akan meningkatkan kebutuhan akan barang-barang industri.

Industrilisasi pada mulanya didasarkan pada pasar dalam negeri dalam bentuk barang-barang subsitusi impor. Sehingga industri subsitusi impor itu akan berkembang lebih cepat apabila di Bantu dengan proteksi, sehingga perkembangan industri subsitusi impor akan menghemat penggunaan devisa. Devisa yang hemat dapat di gunakan untuk mengimpor barang capital dan barang lain yang berguna yang belum dapat segera dihasilkan sendiri. Selanjutnya apabila industri subsitusi sudah berkembang dengan baik dan pasar dalam negeri sudah tidak lagi menampung hasi produksinya, maka kelebihan hasil produksi dapat diekspor guna memperoleh tambahan devisa.

 B.     MOTIF-MOTIF SUBTITUSI IMPOR

Untuk mengadakan subtitusi impor, antara negara yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda, dan saatnya pun berbeda pula.

  1. Bagi negara sedang berkembang, dimana negara-negara tersebut biasanya mengalami kesulitan dalam neraca pembayarannya, maka subtitusi impor dimaksudkan untuk mengurangi atau menghemat penggunaan devisa. Devisa merupakan faktor yang langka dan sangat dibutuhkan di negara-negara yang sedang melaksanakan pembangunan ekonomi. Dalam hal impor negara tersebut belum dapat menghasilkan sendiri secara cukup barang-barang kapital atau barang-barang konsumsi pokok yang perlu dalam jangka pendek, selalu bertambh besar. Bila devisa yang tersedia terbatas, maka rencana-rencana pembangunan tidak dapat berjalan dengan baik. Subtitusi impor tidak dimaksudkan untuk mengurangi total impor melainkan hanya untuk menghemat devisa, guna mengimpor barang-barang kapital yang belum dapat dihasilkan sendiri.
  2. Subtitusi impor sering timbul bila pemerintah suatu negara berusaha memperbaiki Neraca Pembangunannya, baik dengan cara pembatasan impor (kuota) maupun tarif. Yang mengakibatkan berkurangnya barang-barang impor , sedangkan permintaan akan barang tersebut masih besar. Sehingga mendorong pemerintah sendiri maupun wiraswasta untuk menghasilkan barang –barang yang dibatasi impornya. Jadi timbulnya subtitusi impor dalam bidang industri sebagai akibat kebijaksanaan pemerintah didalam usahanya memperbaiki Neraca Pembayaran yang defisit.
  3. Ada juga suatu negara yang mengadakan industrialisasi dengan tujuan dapat memenuhi kebutuhan sendiri akan berbagai barang industri dank arena semangat kemerdekaan yang timbul di negara yang sedang berkembang. Keadaan ini mendorong timbulnya industry subtitusi impor baik yang menghasilkan barang-barang konsumsi pokok maupun barang-barang kapital yang perlu bagi pelaksanaan pembangunan ekonomi.
  4. Alasan lain dengan adanya industri subtitusi impor ialah karena pemerintah bertujuanuntuk memajukan memperkembangkan kegiatan ekonomi didalam negeri. Untuk memajukan perekonomian dan mendorong timbulnya industri-industri yang pokok didalam negeri, negara tersebut terpaksa menjalankan suatu politik proteksi dan memberikan berbagai fasilitas pada pengusaha-pengusaha swasta. Maka keuntungan yang diperoleh para pengusaha swasta dapat meningkat dan dapat mendorong kegiatan ekonomi lebih lanjut.

Setelah disinggung mengenai beberapa motif subtitusi impor, yang bagi negara berkembang umumnya lebih condong pada motif penghematan devisa. Dengan adanya industry subtitusi impor itu dapat memperoleh keuntungan. Akan tetapi walaupun dalam teori mendapatkan keuntungan, namun kenyataannya hasil yang dicapai sangat sedikit, tidak seperti yang diharapkan. Keadaan seperti ini disebabkan oleh adanya masalah-masalah  yang cukup rumit yang dihadapi negara yang sedang berkembang didalam menghasilkan barang-barang subtitusi impor guna menghadapi persaingan barang-barang itu sendiri.

Masalah-masalah yang dihadapi oleh negar-negara tersebut diantaranya ialah:

1. Kualitas Barang-barang yang Dihasilkan

Kualitas barang-barang yang dihasilkan didalam negeri sebagai barang subtitusi impor sering jauh rendah daripada hasil produksi luar negeri yang diimpor, yaitu pada saat permulaan industry subtitusi impor itu didirikan. Jika kualitas barang yang rendah ini diekspor karena pasar dalam neegeri sudah jenuh, akan mengurangi kepercayaan par konsumen luar negeri. Jika demikian industry subtitusi impor itu bukannya menghemat penggunaan devisa melainkan justru mengakibatkan penerimaan ekspor akan berkurang.

2. Biaya Produksi

Dalam tahap awal industrialisasi biasanya dibutuhkan biaya yang sangat besar, baik untuk mendidik tenaga kerja, membeli mesin-mesin, maupun membayar bahan-bahan dasar yang dibutuhkan. Oleh karenanya ongkos produksi pada permulaan industrialisasi sangat tinggi, lebih-lebih jika kapital yang dipinjam oleh luar negeri disertai dengan tingkat bunga yang tinggi. Maka dari itu untuk menghadapi persaingan dari barang-barang impor yang kualitasnya lebih baik dan biaya produksinya (harganya) lebih murah, pemerintah dapat memberikan suatu proteksi tarif ataupun pengendalian impor. Pemerintah juga dapat memberikan subsidi pada industry tersebut, sehingga biaya produksinya dapat lebih murah untuk menendingi harga barang-barang impor dan diharapkan industry subtitusi impor dapat berhasil.

3. Efisiensi Alokasi Faktor Produksi

Untuk adanya suatu perkembangan ekonomi diperlukan berbagai macam faktor, diantaranya faktor kapital, faktor tenaga kerja, faktor sumber alam serta faktor wiraswasta dan teknologi. Faktor kapital merupakan faktor yang langka dinegara yang sedang berkembang. Penggunaan kapital pada tingkat permulaan industrialisasi sering kurang efisien, padahal tujuan negara tersebut adalah mengadakan atau mengusahakan berdirinya industry subtitusi impor. Dengan alasan tersebut proteksi dapat dilaksanakan, sehingga dapat menaikkan penghasilan dari kapital tersebut.

4. Tenaga Kerja

Faktor tenaga kerja yang tersedia di negara berkembang cukup banyak dan ini dapat digunakan untuk melaksanakan industrialisasi. Kebanyakan dari tenaga kerja yang ada itu adalah tenaga kerja kurang terdidik. Dalam mengadakan industrialisasi, disamping dibutuhkan tenaga kerja kurang terdidik dan semiterdidik juga dibutuhkan tenaga kerja yang cukup terdidik dibidangnya masing-masing. Untuk mendatangkan atau mendidik tenaga ahli diperlukan sejumlah besar kapital. Oleh karenanya didalam melaksanakan industrialisasi, sumber tenaga kerja ini harus dialokasikan sabaik mungkin sehingga efisiensi kerjanya dapat meningkat dan dapat mendorong perkembangan industry-industri subtitusi impor lebih jauh lagi.

5. Sumber Daya Alam

Untuk dapat mengolah sumber-sumber alam yang potensial menjadi sumber alam yang riil dibutuhkan berbagai faktor produksi lain yang berwujud kapital, tingkat teknologi dan wiraswasta yang cukup. Dalam usahanya mengolah sumber-sumber alam yang potensial menjadi sumber alam riil. Negara-negara berkembang kerapkali mendatangkan bantuan dari bantuan dari negara-negara yang sudah maju dalam bentuk kapital maupun tanaga-tanaga ahli. Jelaslah bahwa pemanfaatan sumber-sumber alam yang tersedia dinegara sedang berkembang kurang efektif. Oleh karenanya didalam melaksanakan industrialisasi dengan jalan subtitusi impor hendaknya sungguh-sungguh dipilih sumber-sumber alam yang dapat segera dimanfaatkan guna mendorong perkembangan industry subtitusi impor itu sendiri.

6. Wiraswasta dan Teknologi

Faktor perkembangan ekonomi yang lain, yaitu wiraswasta dan teknologi, juga masih sedikit jumlahnya di negara-negara sedang berkembang dan relatif masih dalam tingkatan yang rendah. Tugas wiraswasta di negara sedang berkembang lebih ringan  daripada di negara-negara maju. Mereka tidak perlu mengadakan penemuan-penemuan baru, melainkan dengan hanya meniru penemuan-penemuan baru yang telah ditemukan dahulu di negara-negra maju. Hal inilah yang menghalangi timbulnya para wiraswasta dan perkembangan teknologi di negara yang sedang berkembang. Hal lain yang merintangi tumbuhnya wiraswasta di negara sedang berkembang adalah keadaan sosial dan kebudayaan yang terdapat di negara tersebut, system politik maupun adat istiadatnya. Jelas bahwa wiraswasta yang terdapat di negara yang sedang berkembang masih sedikit sekali.Maka dari itu penggunaan wiraswasta harus seefisien mungkin. Jangan sampai wiraswasta yang sedikit jumlahnya itu dialokasikan di sektor-sektor yang kurang efisien dan kurang produktif.

C.    SUBSTITUSI IMPOR DAN PINJAMAN LUAR NEGERI

Kebijakan yang diambil pemerintah negara sedang berkembang  diarahkan kepada pembangunan ekonomi negara. Sehingga masalah yang yang dirumuskan adalah menentukan alat yang paling efektif guna mencapai tujuan atau target yang telah di tentukan dalam rencana pembangunan ekonomi, untuk itu diperlukan sekali  banyak kapital. Kenyataannya negara sedang bekembang  minim akan kapital daripada kebutuhan pembangunannya. Karena negara tersebut tidak mempunyai dan belum dapat membuat sendiri alat kapital yang diperlukan untuk melaksanakan pembangunan itu, maka terpaksa mendatangkan dari negara yang telah maju industrinya. Oleh karena itu diperlukanlah alat pembayaran luar negeri atau devisa. Devisa dapat diperoleh diantaranya:

  1. Dengan mengekspor barang ke luar negeri.
  2. Dengan menarik pinjaman atau kredit dari luar negeri.
  3. Dengan bantuan atau hadiah yang diterima negara tersebut dari negara lain.
  4. Dengan menarik kapital asing untuk diinvestasikan langsung di dalam negeri.

Sumber devisa yang utama dari sektor ekspor barang dan jasa serta dari pinjaman luar negeri. Bagi negara berkembang kemampuan untuk mendapatkan devisa  sangat kecil. Karena, barang yang diekspor terutama berwujud produksi primer, sehingga nilai tukar yang dipunyainya relatif rendah bahkan selalu menurun. Menurunnya nilai tukar karena menurunnya permintaan akan prdouksi primer tersebut, sedangkan penawaran meningkat karena bertambahnya produksi primer dibeberapa negara  penghasil, dan juga bertambah banyaknya barang-barang sintetis. Untuk itu karena ekspor produksi primernya tidak mencukupi sedangkan pembangunan tetap harus dilaksanakan maka negara tersebut terpaksa mencari jalan lain yaitu berupa pinjaman luar negeri yang dapat digunakan untuk melaksanakan industrialisasi terutama dibidang industri substitusi impor. Kemudian, pembayaran kembali pinjaman luar negeri itu dapat dibiayai dengan behasilnya pendirian industri substitusi impor. Dapat pula pembayaran kembali pinjaman luar negeri melalui pinjaman dari negeri lain, tetapi ini tidak efektif, tidak mempunyai efek yang positif bagi kestabilan dan pembangunan ekonomi negara. Pinjaman luar negeri dapat pula dibiayai dengan penarikan pajak oleh pemerintah yang dalam prosesnya akan mengurangi penguranagn tingkat konsumsi atau tingkat investasi.

Ekspor  dan pinjaman luar negeri saling mengisi, dan pembangunan ekonomi negara berkembang selalu membutuhkan kapital dari luar negeri. Bila pertambahan impor tidak dapat ditutup dengan hadiah dan pinjaman luar negeri maka negara tersebut harus meaikkan volume ekspornya. Bagi negara sedang berkembang disamping mengekspor produks primer yang semakin besar jumlahnya, juga harus mengembangkn ekspor dalam bentuk barang yang telah diproses. Tetapi kesulitannya, selalu ada proteksi tarif dari negara yang lebih maju dalam mengimpor barang dari negara yang sedang berkembang.

 D.    SEGI POSITIF DAN NEGATIF PINJAMAN LUAR NEGERI

1. Segi positif

Merupakan sumber yang tidak sedikit peranannya dalam pembangunan ekonomi negara termasuk pembangunan industri substitusi impor.

2. Segi negatif

Negara menjadi terikat akan suatu kewajiban, yaitu kewajiban membayar kembali pinjaman yang berupa pinjaman pokok dan bunganya. Kemampuan untuk mengimpor barang-barang yang diperlukan guna memenuhi kebutuhan dalam negeri menjadi berkuang. Jadi, devisa yang diperoleh dari hasil ekspr tidak dapat digunakan untuk mengimpor barang yang penting melainkan harus digunakan untuk membayar kembali pinjaman luar negeri. Dengan demikian akan terjadi purchasing power atau penurunan daya beli barang di dalam negeri.

Pinjaman luar negeri dapat pula berwujud barang-barang yang disediakan untuk diimpor dengan pinjaman yang diberikan kepada negara debitor. Hal ini kurang menguntungkan bagi negara peminjam (debitor) karena penggunannya sangat terikat pada daftar barang yang disediakan, dan sering terjadi ketidaksesuaian antara barang yang disediakan dengan negara peminjam. Jadi, negara peminjam terpaksa harus mengimpor barang yang kurang sesuai dengan kebutuhannya.  Barang yang dapat diimpor itu sendiri merupakan barang-barang yang berlebihan di negara-negara pemberi pinjaman (kreditor).

E.     KAPASITAS SUATU NEGARA DALAM MEMBIAYAI PINJAMAN LUAR NGERI

Dalam menarik pinjaman luar negeri negara harus mampu mengukur kapasitasnya di dalam membayar kembali pinjamannya. Dalam jangka pendek kapasitas tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi dalam bidang ekspor dan impor. Dalam jangka panjang, kapasitas negara tersebut sulit ditentukan karena adanya kesulitan di dalam menentukan hasil perkembangan ekonomi yang sebagaian dibiayai dengan pinjaman luar negeri.

Pinjaman luar negeri harus digunakan secara self liquiditing atau self finance (membiayai sendiri), sehingga dalam waktu tetentu dapat menghasilkan barang-barang yang kemudian dapat menarik pendapatan devisa dengan mengekspor hasil tersebut ataupun menghemat devisa yang digunakan yang nantinya dapat dignakan utuk membayar kembali pinjaman luar negeri. Kesulitan yang dihadapi oleh self finance itu apabila pinjaman yang berwujud barang, terlebih lagi kalau barang itu kurang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh negara peminjam. Self finance ini penggunaanya kurang berhasil. Dalam hubungannya dengan self finance credit negara sedang berkembang memusatkan investasinya dalam bidang industri ekspor, substitusi impor atau barang yang sama sekali baru untuk dijual pada pasar dalam negeri.

Terdapat hubungan yang erat dari sektor yang merupakan sumber devisa yaitu sektor ekspor, sektor substitusi impor dan sektor pinjaman luar negeri. Pinjaman luar negeri dapat digunakan untuk mendorong timbulnya industri substitusi impor yang selanjutnya dapat mendorng timbulnya industri ekspor dan menikkan jumlah ekspor. Dengan industri substitusi impor berarti ada penghematan devisa. Timbulnya industri ekspor dan naikknya jumlah ekspor maka pendapatan devisa akan meningkat. Dapat pula terjadi yaitu saat pengembalian pinjaman telah tiba dan harus segera dibayar, maka industri substitusi impor dan industri ekspor dapat digunakan untuk membiayai pembayaran kembali pokok pinjaman beserta bunganya.

F.     SUBSITUSI IMPOR DALAM INFLASI

Inflasi mempunyai pengaruh positif dan negative.Pengaruh positif adalah pengaruh yang membawa perbaikan baik dibidang ekonomi maupun non ekonomi. Bagi negara berkembang inflasi dapat membawa dampak positif. Namun bagi negara berkembang belum tentu membawa dampak positif karena:

  1. Kekurangan wiraswasta,
  2. Sedikit sekali mempunyai kapasitas lebih dan pabrik-pabriknya dan juga tidak tersediabahan baku serta suku sadang,
  3. Biasanya iflasi tidak dibarengi oleh investasi yang spekulatif dan komersial,
  4. Pendapatan negara berkembang umumna rendah.

Negatifnya inflasi sangat mempengaruhi terhadap:

  1. Struktrur harga: Imbangan harga yang satu dengan yang lain
  2. Investasi dan Konsumsi: Investasi akan bersifat non produktif materiil dan terhadapkonsumsi semakin memperlebar celah perbedaan tingkatkonsumsi antara golongan masyarakat yang katya dengan yang miskin
  3. Perniagaan Internasioal: Inflasi menimbulkan dispritas harga yang akan menghambat pelaksanaan induntrialisasi karena barang-barang  hargnya selalu menurun
  4. Distribusi Penghasilan dan Kekayaaan: Karena inflasi mengakibatkan kenaikan harga, hal ini akan menyebaakna adanya pergeseran dalam pembagian penghasilan dalam masyarakat.Dalam keadaan inflasi,negara sedang berkembang tidak mngkin melaksanakan industrialisasiatau menciptakan barang-barang subsutisi impor

G.    SUBSITUSI IMPOR DI BERBAGAI SEKTOR

Subsitusi impor dianggap ada apabila bagi suatu barang tertentu produksinya meningkat lebih cepat daripada impornya, sehingga impor barang-barang tersebut merupakan bagian yang makin sedikit dari jumlah total penawaranya.

1. Industri Barang Konsumsi Pokok

Alasan negara memulai industrialisasinya dengan industri-industri yang menghasilkan barang-barang konsumsi :

a. Pada umumnya negara tresebut pendapatanya masih rendah,

b. Adanya efek pamer yang berlaku di negara yang sedang berkembang,

c. Pasar konsumsi lebih luas dari pada pasar barang-barang kapital,

d. Tingkat teknologi yang dibutuhkan untuk menghasilkan barang-barang kapital lebih tinggi daripada yang dibutuhkan untuk menghasilkan barang-baranga konsumsi.

2. Industri Pangan (Pertanian)

Di negara yang sedang berkembang,target produksi pertanian  termasuk termasuk pula penghasilan devisa dengan jalan menaikan ekspor dan juga penghematan devisadengan jalan mengurangi impor.Tetapi pada kenyataanya negara edang berkembang yang behasil mengurangi impor hasil pertanian hanya beberapa saja..Pembangunan pertanian dapat diharpkan berhasil asal diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :

a. Pemasaran hasil pertanian harus terjamin,

b. Harus ada perubahan terhologi terus-menerus,

c. Tersedianya alat-alat bagi petani di tempat tinggal atau tempat mereka bekerja,

d. Harus ada dorongan bagi petani untuk lebih produktif,

f. Harus ada transportasi yang murah dan efisian.

3. Industri Jasa

Negara berkembang sebaiknya disamping mengusahakan subsuusi impor di bidang industri dan pertanian juga dibidang jasa.

a. Negara berkembang banyak mendidik warga negaranya dengan menirim mereka ke negara-negara yang telah maju,

b. Dalam jasa pengangkutan masih menggantunmgkan pada pihak luar.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Industrialisasi subsitusi impor timbul karena pemerintah negara berkembang ingin melaksanakan pembangunan ekonomi dinegaranya. Alasan untuk mengadakan subsitusi impor sebenarnya berbeda antara negara satu dengan yang lainya. Negara berkembag mempunyai kehendak besar untuk membangun negaranya. Oleh karena itu,dibutuhkan kapital yang dapat diperoleh dari pinjaman luar negri. Pinjaman luar negri mempunyai dampak negatif dan positif. Suatu negara harus mengatehui kapasitas suatu negara dalam membiayai pinjaman luar ngeri tersebut.Inf;lasi sudah dialami oleh sebagian besar negara yang ada didunia. Inflasi selain membawa dampak buruk sebenarnya juga membawa dampak positif. Subtitusi imporada di berbagai soktor,diantaranya sektor industri.sektor pertanian dan sektor jasa. Untuk membantu pembangunan ekonomi, memang diharapkan bantuan tenaga ahli dari negara maju, namun tidaklah baik bila menggantungkan diri pada bantuan ahli luar negeri.

DAFTAR PUSTAKA

Irawan dan Suparmoko.2002.Ekonomika Pembangunan.Yogyakarta: BPTE Yogyakarta

Martono, trisno.2008.Ekonomi Pembangunan.Surakarta:UNS Press

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s