KEUNGGULAN KOMPARATIF

Posted: 18 January 2013 in Ekonomi Internasional

KEUNGGULAN KOMPARATIF

 A.      PENDAHULUAN

Setiap negara pasti memiliki sumber daya yang berbeda-beda yang menjadi kekayaan dari negaranya. Kemudian sumber daya – sumber daya tersebut menjadi keunggulan dari negaranya yang membedakannya dari negara – negara yang lain. Karena hal tersebut maka ada sifat saling membutuhkan diantara negara – negara tersebut sehingga diperlukan adanya pertukaran untuk melengkapi kebutuhan yang ada, sebab seperti yang kita ketahui bahwa kebutuhan manusia itu tidak terbatas.

Pada awalnya motif untuk melakukan pertukaran karena adanya manfaat dari perdagangan itu sendiri. Sumber yang utama dari manfaat itu adalah adanya perbedaan – perbedaan diantara tiap – tiap individu di dunia ini, misalnya saja perbedaan selera dan hal / pola konsumsi. Untuk itu tiap – tiap negara saling melengkapi kebutuhan tersebut sehingga hal ini menyebabkan adanya perdagangan internaional. Tetapi secara fundamental sebenarnya perdagangan terebut tercipta karena suatu negara dapat menghasilkan barang tertentu secara lebih efisien dari pada negara lain. Dengan demikian berarti suatu negara dapat memproduksi suatu barang dengan lebih banyak dan lebih cepat serta menggunakan sumber daya yang ada secara tepat dibandingkan dengan negara lain.

Dalam hal ini efisien untuk memproduksi guna perdagangan internasional ada dua dilihat dari macam kasusnya yaitu efisien secara mutlak (keunggulan mutlak) dan efisien secara relatif (keunggulan komparatif).

B.       KEUNGGULAN MUTLAK

Keunggulan mutlak dikatakan mutlak karena suatu negara dapat menghasilkan barang tersebut dengan biaya yang secara mutlak lebih murah daripada negara lain. Dengan kata lain berarti negara tersebut hanya mengeluarkan sedikit biaya atau biaya terendah dalam memproduksi suatu barang.

Dalam hal ini juga dipertimbangkan berapa hari dan jumlah sumber daya yang digunakan. Sebagai contoh misalnya :

DATA KEBUTUHAN HARI KERJA UNTUK MEMBUAT BARANG PRODUKSI

                      Negara

produksi

INDONESIA SWISS
JAM TANGAN 6 2
KERAMIK 2 4

Dalam hal ini maka Indonesia memiliki keunggulan mutlak dalam produksi keramik dan Swiss memiliki keunggulan mutlak dalam produksi jam. Sehingga akibatnya Indonesia akan mengekpor keramik dan Swiss akan mengekspor produksi jam tangannya. Disini akan terjadi perdagangan karena adanya barang yang dapat diperoleh dengan murah sebab harga barang yang murah itu dengan sendirinya akan menggeser barang yang lebih mahal dari pasaran hal ini dikarenakan efisien tadi yaitu dengan harga yang murah mendapatkan hasil yang besar dan sesuai.

C.      KEUNGGULAN KOMPARATIF 

Karena adanya kemajuan teknologi , mesin-mesin yang canggih serta tenaga kerja yang terampil terkadang suatu negara dapat memproduksi semua barang secara efisien sehingga menurut David Ricardo dalam hal ini maka negara tersebut hanya akan mengekspor barang yang mempunyai keunggulan komparatif tinggi dan mengimpor barang yang mempunyai keunggulan komparatif rendah, maka dengan demikian suatu negara tidak akan mengalami kerugian.

Misalkan saja:

DATA KEBUTUHAN HARI KERJA UNTUK MEMBUAT BARANG PRODUKSI

                      Negara

produksi

INDONESIA SWISS
JAM TANGAN 6 2
KERAMIK 6 4

Dari data diatas maka dapat kita lihat bahwa:

Swiss        : 2 jam tangan = 4 keramik, berarti 1 jam tangan = 2 keramik

Indonesia : 6 jam tangan = 6 keramik, berarti 1 jam tangan = 1 keramik

Dengan demikian maka Swiss memiliki keunggulan komparatif dalam produksi jam tangan dan Indonesia unggul dalam produksi keramik. Dengan demikian maka akan mendorong perdagangan antar negara dimana dari hal tersebut maka Indonesia akan mengekspor keramik dan Swiss akan mengekspor jam tangan, dengan demikian maka kedua negara sama – sama mendapatkan keuntungan.

D.      SPESIALISASI PRODUKSI

Untuk mencapai sesuatu yang lebih efisien tadi maka setiap negara berusaha melakukan spesialisasi produksi. Dengan spesialisasi produksi ini maka setiap negara akan menggunakan sumber dayanya untuk memproduksi barang tersebut. Untuk mengetahui spesialisasi produk ini maka digunakan batas kemampuan produksi ( production-possibility frontier- PPF). Sebagai contoh, misalnya :

                      Negara

produksi

INDONESIA SWISS
JAM TANGAN 6 buah 2 buah
KERAMIK 6 buah 4 buah
TOTAL JAM KERJA 1200 800

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa dengan hari kerja yang tetap suatu Negara memproduksi berapapun tingkat produksi masing-masing barang dimana setiap barang mempunyai biaya yang tetap ( constant cost) untuk memproduksinya. Dengan demikian maka manfaat dari perdagangan ini adalah pengaruhnya terhadap pola produksi yang digunakan sehingga menguntungkan. Dalam constant cost maka suatu Negara akan memproduksi barang-barang yang memiliki keunggulan komparatif tinggi untuk ber spesialisasi.

E.  HARGA RELATIF

Perdagangan akan terjadi apabila terdapat adanya perbandingan harga ( harga relatif / rasio harga). Dalam perdagangan harga relatif itu akan terletak diantara harga relatif dimasing-masing negara sebelum terjadi perdagangan. Jadi tingkat harga relatif keseimbangan setelah perdagangan ditentukan oleh tarik menarik diantara kedua belah pihak.

Dalam hal ini jika harga relatif lebih kecil maka salah satu pihak tidak akan mau melakukan perdagangan sebab hal itu tidak menguntungkan. Tetapi jika harga relatif lebih tinggi maka salah satu pihak pun tidak akan mau melakukan perdagangan sebab mereka enggan menukarkan barangnya dengan Negara tersebut. Jadi bila harga yang terjadi diluar batas maka tidak akan terjadi perdagangan. Sehingga harga- harga yang ditawarkan harus  seimbang / sesuai.

F.  MANFAAT POTENSIAL PERDAGANGAN

Seandainya tingkat harga relatif keseimbangan yang terjadi adalah sehelai permadani adalah sama dengan 5/6 kg rempah-rempah (ingat bahwa menurut dalil harga relatif diatas 2/3 < 5/6 < 1). Atas dasar dalil mengenai spesialisasi diatas, maka persia akan menggunakan seluruh tenaga kerja yang tersedia untuk memproduksi  300 helai permadani.

Maaf gambar tidak bisa ditampilkan **)

Gambar diatas menunjukkan posisi produksi yang dipilih yaitu pada titik 300 helai permadani. Indonesia sebaliknya dalam produksi rempah-rempah pada titik 200 Kg. Dengan begitu masing-masing Negara dapat menukarkan barang produksinya dengan barang produksi Negara lain pada tingkat harga relative perdagangan internasional tersebut, yaitu: 1 helai permadani sama dengan 5/6 Kg rempah-rempah. Dengan dibukanya kemungkinan perdagangan Negara tersebut, CPF suatu Negara tidak harus sama dengan PPF Negara tersebut. CPF-nya setelah perdagangan biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan PPF Negara tersebut, dengan kata lain perdagangan tersebut meningkatkan kemampuan berkonsumsi atau pendapatan riil Negara tersebut. Hal inilah yang dapat disebut dengan manfaat potensial dari perdagangan yang seharusnya dikembangkan Negara tersebut atau semakin baik dasar penukaran yang diperoleh suatu Negara, semakin besar manfaat potensial yang diperoleh dari perdagangan.

G.    VOLUME EKSPOR DAN IMPOR

Berapa besar ekspor dan impor masing-masing Negara dapat kita hitung apabila kita tahu pola konsumsi yang dipilih oleh masing-masing Negara.

Pola Konsumsi paa prinsipnya dapat dipilih diantara titik-titik pada CPF yang baru (sesudah perdagangan terjadi), yaitu pada garis yang putus-putus.

Pada gambar titik A menunjukkan bahwa Persia memilih untuk mengkonsumsi 180 helai permadani dan 100 kg rempah-rempah. Dengan pola konsumsi ini berarti bahwa, Persia mengekspor 120 (=300-180) helai permadani. Persia akan selalu berspesialisasi secara penuh dalam produksi yang mempunyai keunggulan komperatif, yaitu dalam produksi permadani (300 helai). Dengan harga relative yang berlaku 1 permadani = 5/6 kg rempah-rempah, maka Persia bisa menukarkan 120 helai permadani dengan 100 kg rempah-rempah. Jadi Persia mengimpor 100 kg rempah-rempah.

Pola konsumsi yang dipilih Indonesia adalah pada titik B, yaitu 120 helai permadani dan 100 kg rempah-rempah. Indonesia berspesialisasi penuh dalam produksi rempah-rempah (200 kg). Ini berarti bahwa ada sisa 100 kg rempah-rempah untuk diekspor ke Persia dan ditukar dengan 120 helai permadani.

Gambar :

Maaf gambar tidak bisa ditampilkan **)

H.    HUKUM PERMINTAAN TIMBAL BALIK

Posisi A dan B dalam contoh di atas adalah posisi keseimbangan. Karena permintaan dan penawaran bagi masing-masing barang seimbang, yaitu jumlah permadani yang diekspor Persia sama persis dengan jumlah permadani yang ingin diimpor Indonsia. Dan jumlah rempah-rempah yang diekspor Indonesia persis sama dengan jumlah rempah-rempah yang ingin diimpor Persia.

Maka bisa dikatakan dengan pola seperti itu, 1 permadani = 5/6 kg rempah-rempah adalah Harga Relatif Keseimbangan.

Seandainya terjadi permintaan akan rempah-rempah meninkat, sedang permintaan akan permadani melemah, maka sesuai dengan “hukum pasar” biasa , harga perdagangan meningkat relative terhadap permadani atau dengan kata lain dasar penukaran Indonesia cenderung untuk menjadi lebih menguntungkan, sedang dasar penukaran Persia memburuk.

Ini adalah makna dari “bargaining power”, suatu Negara yang mempunyai hasil produksi yang sangat dibutuhkan oleh Negara lain dan sedangkan Negara tersebut tidak terlalu membutuhkan hasil produksi Negara lain mempunya “bargaining power” yang kuat. Sebaliknya Negara yang sangat membutuhkan hasil produksi Negara lain, tetapi hasil produksinya tidak mempunyai permintaan yang kuat di pasar dunia, mempunyai “bargaining power ” yang lemah.

Dengan adanya bargaining power yang lemah merupakan salah satu aspek dari “ketergantungan” (dependence) pada Negara-negara maju dalam berbagai segi. Ketergantungan akan barang-barang buatan Negara maju (misalnya mesin-mesin untuk proyek pembangunan) sangatlah besar karena belum bisa membuat sendiri. Sedangkan Negara-negara maju cenderung untuk kurang tergantung pada barang-barang hasil produksi Negara-negara berkembang, karena Negara-negara maju sudah bisa membuat bahan penggantinya (misal karet sintetis) di dalam negeri.

Akibatnya adalah bahwa dasar penukaran Negara-negara sedang berkembang cenderug memburuk dalam jangka panjang. Negara sedang berkembang menerima bagian yang kecil dari manfaat perdagangan internasional.

Hukum permintaan timbal balik (The Law of Reciporal Demand) bekerja dalam praktek atau berdasar pada kenyataan yang terjadi. Dasar penukaran suatu Negara sedang berkembang bisa saja memburuk atau membaik tergantung dengan macam barang utama yang diekspor.

Inti dari hukum ini adalah :

Harga relative atau dasar penukaran keseimbangan ditentukan oleh tarik-menarik antara kekuatan permintaan Negara tersebut terhadap barang-barang hasil Negara lain, dan kekuatan permintaan Negara lain terhadap barang-barang yang dihasilkan Negara tersebut.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s